Kisah
Asmara Dikala SMA
Oleh: Ayu Lestari
Pada suatu
hari ada seorang siswi yang berprestasi di SMA Karya yang bernama Shinta.
Selain berprestasi Shinta juga sosok siswi yang baik, ceria dan sopan. Setelah
libur panjang menuju tahun ajaran baru akhirnya tahun ajaran baru telah dimulai
dan Shinta pun sangat senang karena ia sudah tidak sabar ingin mengetahui kelas
barunya dan teman-teman kelas yang baru. Sesampainya disekolah Shinta langsung
berlari menuju mading sekolah untuk melihat informasi kelas baru. Ternyata
Shinta masuk kelas 11-IPS-1 dan ia sangat senang karena kelas itu adalah kelas
yang ia impikan karena letak kelasnya yang membuat ia nyaman karena bersebelahan
dengan perpustakaan.
Ketika Shinta memasuki kelas,
ia memilih tempat duduk yang nyaman untuknya. Saat itu Shinta memilih duduk
dibarisan depan agar dapat lebih fokus belajarnya. Sambil menunggu wali kelas
datang untuk memberikan bimbingan awal, Shinta sibuk mewarnai gambarnya yang
telah ia buat kemarin malam dengan krayon kesayangannya. Tiba-tiba ada seorang
siswa yang menaruh tas disamping Shinta. Setelah menaruh tas lalu siswa itu
hanya diam dan terlihat cuek sekali. Shinta pun jadi merasa heran, bukannya
berkenalan terlebih dahulu tapi hanya diam saja.
Ternyata
siswa itu bernama Rama, ia siswa yang gagal masuk kelas jurusan IPA. Kebalikan
dengan Shinta, Shinta yang sebenarnya nilainya mencukupi untuk masuk kelas
jurusan IPA justru ia memilih kelas jurusanIPS karena jurusan IPS memang minatnya.
Rama ingin masuk kelas jurusan IPA karena ketika berkuliah nanti ingin
mengambil jurusan Teknik Mesin. Tetapi karena ia masuk kelas jurusan IPS maka
musnah sudah cita-citanya yang ingin berkuliah di jurusan Teknik Mesin. Oleh
karena itu, Rama hanya diam saja ketika masuk kelas barunya dan merasa begitu
menyesal dan tidak ikhlas.
Nilai Rama
tidak mencukupi untuk masuk kelas jurusan IPA karena ketika Rama kelas sepuluh,
ia adalah siswa yang sangat malas. Setiap hari ia hanya membawa satu buku tulis
dan kerjaannya hanya tidur saja dikelas karena hamper setiap malam Rama ikut
balap liar hingga menuju dini hari. Untuk mendapatkan kelas jurusan IPA dengan
usaha belajar yang seperti itu sangatlah mustahil. Maka dari itu Rama begitu
menyesal.
Seiring waktu
berjalan ternyata Rama dan Shinta sudah menjalani sekolah selama dua bulan.
Selama itu Rama dan Shinta semakin akrab karena Rama sudah tidak seperti awal
masuk kelas lagi. Rama hari demi hari berubah menjadi lebih menerima apa yang
dia miliki dan menjalaninya dengan ikhlas walaupun Rama masih malas belajar dan
dia belum bisa apa-apa didalam pelajaran, sangat jauh berbeda dengan kemampuan
Shinta. Tetapi hal itu merupakan kemajuan yang lumayan baik untuk seorang Rama
yang tadinya adalah siswa yang sangat malas. Semua itu berkat Shinta, Shinta
teman sebangku Rama yang baik karena bisa membuat Rama sadar akan masa depan cerah
yang tidak harus dari kelas jurusan IPA saja tetapi kelas jurusan IPS juga bisa
sukses. Tuhan pasti punya rencana lain, mungkin saja rezeki Rama memang dikelas
jurusan IPS bukan IPA.
Setelah satu
semester berjalan, ternyata seorang Rama diam-diam mengagumi sosok Shinta yang
begitu memotivasinya dalam belajar, membatu mengajarinya jika ada pelajaran
yang tidak ia paham lalu Shinta begitu sabar mengajarinya. Hal-hal seperti
itulah yang membuat seorang Rama kagum, mencintai dan menyayangi Shinta.
Akhirnya Rama mengungkapkan cintanya kepada Shinta karena ia sudah tak kuasa
menahan rasa cintanya yang begitu dalam.
Rama telah
menyatakan cintanya sepulang sekolah kemarin, tetapi hasilnya nihil. Shinta
bilang kepada Rama bahwa Shinta tidak mau memiliki kekasih yang bodoh dan
malas. Rama begitu sedih, karena kata-kata yang diucapkan Shinta begitu tajam
menggores hatinya. Tetapi Rama tidak akan menyerah begitu saja.
Mendengar
ucapan Shinta, Rama pun semakin termotivasi untuk menjadi lebih prestasi
belajarnya daripada yang sekarang. Rama membuktikan kepada Shinta bahwa ia
tidak menjadi Rama yang dulu. Rama yang malas dan bodoh. Hari demi hari Rama
berupaya untuk berubah menjadi siswa yang rajin, tidak balapan liar lagi dan
menjauhi hal-hal yang negative dalam menjalani sekolah.
Tiga bulan
kemudian Rama telah membuktikan prestasinya yang sering aktif dalam setiap
pelajaran, nilai-nilai yang bagus, sering maju kedepan untuk mengerjakan
soal-soal dll. Shinta pun bangga dengan kemajuan Rama yang begitu pesat. Tapi,
Shinta tidak ingin menunjukkan rasa bangganya kepada Rama, karena Shinta tidak
ingin Rama besar kepala. Karena Shinta bukan tipe perempuan yang mudah begitu saja
didapatkan hatinya. Bukannya Shinta sombong, tetapi dia hanya ingin menjaga
dirinya sebagai seorang perempuan.
Memang sangat
lama Rama mengejar cinta Shinta. Tetapi, dibalik itu ada hikmah untuk Rama.
Karena Shinta Rama benar-benar menjadi siswa yang berprestasi. Rama yang
tadinya peringkat 20-an disemester 1 dan sekarang di semester 2 Rama mendapat
peringkat 3 dan Shinta peringkat 1 dikelas. Shinta semakin bangga dengan Rama.
Akhirnya Shinta
pun menerima cinta Rama setelah berkali-kali Rama mengungkapkan cinta
kepadanya. Hari-hari seperti biasa dilalui bersama-sama. Meraka berdua menjadi
dua sejoli yang saling mencintai, penuh kebahagiaan dan tidak melupakan
tugasnya sebagai seorang pelajar SMA. Justru mereka berdua suka bersaing dalam
pelajaran.
Ketika tahun
ajaran baru, Rama dan Shinta naik kekelas dua belas. Tetapi mereka berdua beda
kelas, Shinta 12-IPS-1 dan Rama 12-IPS-4. Jaraknya memang jauh, tetapi hal itu
tidak menghaangi mereka untuk selalu bersama dan belajar bersama.
Beberapa bulan
kemudian akhirnya Rama sangat mengejutkan. Dia mendapat peringkat satu
dikelasnya, Shinta pun begitu. Mereka sama-sama peringkat satu dikelasnya
masing-masing. Shinta semakin bangga dan terharu mengingat usaha Rama. Jadi,
Shinta peringkat satu paralel dan Rama peringkat dua paralel, nilai mereka
berdua hanya beda dikoma saja.
Kisah cinta
Rama dan Shinta sungguh mengagumkan dan patut dicontoh bagi para kaula muda.
Karena Rama dan Shinta menjalin cinta tidak hanya untuk sekedar
bersenang-senang, tetapi mereka berdua saling memotivasi untuk masa depan yang cerah.
Selesai















