Happy Reading

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.



Kisah Asmara Dikala SMA

Oleh: Ayu Lestari


                        Pada suatu hari ada seorang siswi yang berprestasi di SMA Karya yang bernama Shinta. Selain berprestasi Shinta juga sosok siswi yang baik, ceria dan sopan. Setelah libur panjang menuju tahun ajaran baru akhirnya tahun ajaran baru telah dimulai dan Shinta pun sangat senang karena ia sudah tidak sabar ingin mengetahui kelas barunya dan teman-teman kelas yang baru. Sesampainya disekolah Shinta langsung berlari menuju mading sekolah untuk melihat informasi kelas baru. Ternyata Shinta masuk kelas 11-IPS-1 dan ia sangat senang karena kelas itu adalah kelas yang ia impikan karena letak kelasnya yang membuat ia nyaman karena bersebelahan dengan perpustakaan.
             Ketika Shinta memasuki kelas, ia memilih tempat duduk yang nyaman untuknya. Saat itu Shinta memilih duduk dibarisan depan agar dapat lebih fokus belajarnya. Sambil menunggu wali kelas datang untuk memberikan bimbingan awal, Shinta sibuk mewarnai gambarnya yang telah ia buat kemarin malam dengan krayon kesayangannya. Tiba-tiba ada seorang siswa yang menaruh tas disamping Shinta. Setelah menaruh tas lalu siswa itu hanya diam dan terlihat cuek sekali. Shinta pun jadi merasa heran, bukannya berkenalan terlebih dahulu tapi hanya diam saja.
                    Ternyata siswa itu bernama Rama, ia siswa yang gagal masuk kelas jurusan IPA. Kebalikan dengan Shinta, Shinta yang sebenarnya nilainya mencukupi untuk masuk kelas jurusan IPA justru ia memilih kelas jurusanIPS karena jurusan IPS memang minatnya. Rama ingin masuk kelas jurusan IPA karena ketika berkuliah nanti ingin mengambil jurusan Teknik Mesin. Tetapi karena ia masuk kelas jurusan IPS maka musnah sudah cita-citanya yang ingin berkuliah di jurusan Teknik Mesin. Oleh karena itu, Rama hanya diam saja ketika masuk kelas barunya dan merasa begitu menyesal dan tidak ikhlas.
                     Nilai Rama tidak mencukupi untuk masuk kelas jurusan IPA karena ketika Rama kelas sepuluh, ia adalah siswa yang sangat malas. Setiap hari ia hanya membawa satu buku tulis dan kerjaannya hanya tidur saja dikelas karena hamper setiap malam Rama ikut balap liar hingga menuju dini hari. Untuk mendapatkan kelas jurusan IPA dengan usaha belajar yang seperti itu sangatlah mustahil. Maka dari itu Rama begitu menyesal.
                    Seiring waktu berjalan ternyata Rama dan Shinta sudah menjalani sekolah selama dua bulan. Selama itu Rama dan Shinta semakin akrab karena Rama sudah tidak seperti awal masuk kelas lagi. Rama hari demi hari berubah menjadi lebih menerima apa yang dia miliki dan menjalaninya dengan ikhlas walaupun Rama masih malas belajar dan dia belum bisa apa-apa didalam pelajaran, sangat jauh berbeda dengan kemampuan Shinta. Tetapi hal itu merupakan kemajuan yang lumayan baik untuk seorang Rama yang tadinya adalah siswa yang sangat malas. Semua itu berkat Shinta, Shinta teman sebangku Rama yang baik karena bisa membuat Rama sadar akan masa depan cerah yang tidak harus dari kelas jurusan IPA saja tetapi kelas jurusan IPS juga bisa sukses. Tuhan pasti punya rencana lain, mungkin saja rezeki Rama memang dikelas jurusan IPS bukan IPA.  
                 Setelah satu semester berjalan, ternyata seorang Rama diam-diam mengagumi sosok Shinta yang begitu memotivasinya dalam belajar, membatu mengajarinya jika ada pelajaran yang tidak ia paham lalu Shinta begitu sabar mengajarinya. Hal-hal seperti itulah yang membuat seorang Rama kagum, mencintai dan menyayangi Shinta. Akhirnya Rama mengungkapkan cintanya kepada Shinta karena ia sudah tak kuasa menahan rasa cintanya yang begitu dalam.
                      Rama telah menyatakan cintanya sepulang sekolah kemarin, tetapi hasilnya nihil. Shinta bilang kepada Rama bahwa Shinta tidak mau memiliki kekasih yang bodoh dan malas. Rama begitu sedih, karena kata-kata yang diucapkan Shinta begitu tajam menggores hatinya. Tetapi Rama tidak akan menyerah begitu saja.

                       Mendengar ucapan Shinta, Rama pun semakin termotivasi untuk menjadi lebih prestasi belajarnya daripada yang sekarang. Rama membuktikan kepada Shinta bahwa ia tidak menjadi Rama yang dulu. Rama yang malas dan bodoh. Hari demi hari Rama berupaya untuk berubah menjadi siswa yang rajin, tidak balapan liar lagi dan menjauhi hal-hal yang negative dalam menjalani sekolah.
                    Tiga bulan kemudian Rama telah membuktikan prestasinya yang sering aktif dalam setiap pelajaran, nilai-nilai yang bagus, sering maju kedepan untuk mengerjakan soal-soal dll. Shinta pun bangga dengan kemajuan Rama yang begitu pesat. Tapi, Shinta tidak ingin menunjukkan rasa bangganya kepada Rama, karena Shinta tidak ingin Rama besar kepala. Karena Shinta bukan tipe perempuan yang mudah begitu saja didapatkan hatinya. Bukannya Shinta sombong, tetapi dia hanya ingin menjaga dirinya sebagai seorang perempuan.
                       Memang sangat lama Rama mengejar cinta Shinta. Tetapi, dibalik itu ada hikmah untuk Rama. Karena Shinta Rama benar-benar menjadi siswa yang berprestasi. Rama yang tadinya peringkat 20-an disemester 1 dan sekarang di semester 2 Rama mendapat peringkat 3 dan Shinta peringkat 1 dikelas. Shinta semakin bangga dengan Rama.
             Akhirnya Shinta pun menerima cinta Rama setelah berkali-kali Rama mengungkapkan cinta kepadanya. Hari-hari seperti biasa dilalui bersama-sama. Meraka berdua menjadi dua sejoli yang saling mencintai, penuh kebahagiaan dan tidak melupakan tugasnya sebagai seorang pelajar SMA. Justru mereka berdua suka bersaing dalam pelajaran.
                      Ketika tahun ajaran baru, Rama dan Shinta naik kekelas dua belas. Tetapi mereka berdua beda kelas, Shinta 12-IPS-1 dan Rama 12-IPS-4. Jaraknya memang jauh, tetapi hal itu tidak menghaangi mereka untuk selalu bersama dan belajar bersama.
                  Beberapa bulan kemudian akhirnya Rama sangat mengejutkan. Dia mendapat peringkat satu dikelasnya, Shinta pun begitu. Mereka sama-sama peringkat satu dikelasnya masing-masing. Shinta semakin bangga dan terharu mengingat usaha Rama. Jadi, Shinta peringkat satu paralel dan Rama peringkat dua paralel, nilai mereka berdua hanya beda dikoma saja.
                     Kisah cinta Rama dan Shinta sungguh mengagumkan dan patut dicontoh bagi para kaula muda. Karena Rama dan Shinta menjalin cinta tidak hanya untuk sekedar bersenang-senang, tetapi mereka berdua saling memotivasi untuk masa depan yang cerah.


Selesai
                                 

UPS..! SALAH

UPS...! SALAH
Oleh: Ayu Lestari

                   Pada suatu hari ketika aku kelas 2 SMP, aku sedang bersiap-siap untuk berangkat kesekolah. Sekitar jam 12 siang, sambil bersiap-siap memakai sepatu aku menyalakan TV . Pada saat itu stasiun TV yang aku tonton sedang menyiarkan berita tentang kasus "Baekuni" atau yang lebih dikenal sebagai ”Babe”. Karena sudah siang maka aku tidak menonton berita itu hingga selesai karena takut telat dan aku terburu-buru berangkat kesekolah sampai lupa minum susu yang telah disediakan oleh Ibuku.
                 Setibanya aku disekolah, aku langsung berbaris dilapangan untuk mengikuti apel siang. Dan karena aku hampir terlambat maka aku berbaris tanpa menaruh tas dikelas terlebih dahulu. Sekitar 10 menit kemudian apel telah selesai dan aku segera memasuki kelas karena aku sudah tidak tahan memikul tas sekolah yang begitu beratnya. Kebetulan pada saat itu mata pelajaran jam pertama adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan oleh Bapak guru yang bernama Pak Thoyib. Aku sangat mengagumi sosok Pak Thoyib yang begitu tegas tetapi tetap sabar sehingga saat proses belajar mengajar terasa sangat nyaman. Beberapa menit kemudian Pak Thoyib datang. 
"Selamat siang anak-anak" kata Pak Thoyib. 
"Selamat siang Pak Thoyib" jawab anak-anak.
"Sebelum memulai pelajaran Bahasa Indonesia hari ini bapak ingin bertanya kepada kalian, apakah ada yang menonton berita tadi siang sekitar jam 12 tentang kasus Baekuni atau Babe?" tanya Pak Thoyib.
"Saya Pak!" ketika suasana hening aku menjawab sambil mengangkat tangan.
"Ya, bagus nak. Bisa jelaskan kasus Babe itu tentang apa nak?" tanya Pak Thoyib kepadaku.
"Tentang pembunuhan kan Pak? jadi ada anak laki-laki yang dibunuh oleh Babe gara-gara anak itu tidak mau disuruh Babe untuk membeli soto mie. Begitu kan Pak?" jawabku dengan penuh semangat dan tatapan yakin dan percaya diri.
             Setelah aku menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba suasana kelas menjadi riuh akibat suara tertawa teman-teman sekelas dan juga Pak Thoyib. Sedangkan aku hanya menatap mereka semua dengan ekspresi wajah kebingungan karena tidak mengerti apa penyebab mereka semua tertawa terbahak-bahak karena aku merasa yakin dengan apa yang aku jawab itu benar.
Ketika suasana mulai hening kembali lalu aku bertanya.
"Lho, Bapak dan teman-teman kenapa tertawa?" jawabku masih dengan ekspresi kebingungan.
"Ini PR buat kamu ya nak, kamu cari tahu penyebab Bapak dan teman-teman menertawakanmu" jawab Pak Thoyib sambil tertawa. 
”Yah Pak Thoyib” jawabku dengan ekspresi wajah yang semakin bertanya-tanya.
”Sudah..sudah.. mari kita mulai pelajaran kita hari ini anak-anak” ajakan Pak Thoyib untuk memulai pelajaran seperti biasanya. 
         Beberapa jam kemudian bel tanda pulang sekolah berbunyi dan aku semangat sekali untuk memasukan buku-buku kedalam tas untuk segera pulang karena aku sangat penasaran. Selama diperjalanan pulang aku terus berpikir mengapa tadi Pak Thoyib dan teman-teman menertawakanku. Dan sesampainya aku dirumah, aku langsung bertanya kepada ibuku.
"Assalamualaikum Bu Tari pulang..." salam dariku untuk ibuku yang sedang duduk diruang tamu sambil memakan camilan seperti biasanya.
"Waalaikumsalam nak, lho mengapa wajahmu seperti kebingungan begitu?" tanya ibu kepadaku.
"Begini bu, tadi kan Pak Thoyib Guru Bahasa indonesiaku bertanya, siapa yang menonton berita tentang kasus Babe dan jelaskan tentang kasusnya. Nah, aku langsung menjawab karena tadi sebelum aku berangkat sekolah aku menonton berita tentang itu.. Lalu aku jelaskan kasus Babe yaitu kasus tentang pembunuhan anak laki-laki gara-gara anak itu tidak mau disuruh untuk membeli soto mie sama si Babe ” jawabku dengan semangat.
         Ternyata Ibu langsung tertawa juga dengan terbahak-bahak sama seperti Pak Guru dan teman-teman. Lalu aku bertanya lagi kepada ibuku.
"Lho, kok ibu ikutan tertawa sih?" aku semakin kebingungan.
"Ya ampun nak.. kamu lucu sekali sih. Kasusnya yang sebenarnya bukan seperti itu nak. Kasus yang sebenarnya yaitu Baekuni atau yang lebih dikenal sebagai Babe adalah seorang tersangka pembunuhan berantai disertai dengan mutilasi dan pelecehan seksual terhadap beberapa anak laki-laki (sodomi). Sodomi nak.. bukan soto mie...!" ibu menjelaskan yang sebenarnya dengan penuh tawa.
 "Yah Bu, betapa malunya aku....! Ternyata aku salah mendengar.." jawabku dengan kaget dan tertawa karena merasa sangat malu setelah mengetahui berita yang sebenarnya.
            Hal ini sangat memalukan untukku. Dan ini adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Dibalik kejadian ini ada hikmahnya. Sebelum kita berbicara kita harus berpikir dahulu dan mencari kebenaran apa yang telah kita lihat dan kita dengar agar tidak mengalami kejadian memalukan seperti itu.


SELESAI

WELCOME TO MY BLOOOG!!!


                             Perkenalkan namaku Ayu Lestari, nama panggilanku Tari. Aku beragama Islam. Aku lahir di Jakarta tanggal 2 Juli 1996 tepatnya jam 2 dini hari. Jadi, sekarang aku berumur 18 tahun. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Aku mulai bersekolah sejak umur 5 tahun di TK Islam Amarilys, lulus dari TK aku bersekolah di SDN Cibubur 05 Pagi, lulus dari SD aku bersekolah di SMP Negeri 147 Jakarta Timur, lulus dari SMP aku sekolah di SMA Negeri 51 Jakarta Timur jurusan IPS dan lulus dari SMA sekarang aku kuliah di Universitas Gunadarma, jurusan psikologi. Semoga kuliahku lancar dan mendapatkan hasil yg membanggakan dari kerja kerasku sendiri dan diridhai oleh Allah swt, amin. Hobiku menyanyi, melukis, memasak, makan, menjadi objek foto. berdagang dan pokoknya aku selalu ingin mencoba hal baru dan menciptakan hal baru terutama dalam bidang seni dan kreativitas. Cita-citaku ingin menjadi news anchor seperti Najwa Sihab dan sebenarnya aku ingin sekali menjadi polwan tapi aku pendek jadi yaa mustahil deh.. Tapi aku tidak kehilangan akal, ada cara lain untuk bekerja di kepolisian yaitu dengan aku kuliah mengambil jurusan psikologi aku bisa bekerja dikepolisian nanti, insyaallah.. Itulah penyebab aku memilih jurusan psikologi. Selain faktor itu, aku memilih jurusan psikologi karna pada dasarnya aku lebih suka dengan metode belajar yang dekat dengan hafalan dan memahami atau teori-teori dibandingkan hitungan. Karena aku nyaman dengan berbicara, seperti psikolog yang tugasnya untuk berkonsultasi dengan mengeluarkan wawasannya yang luas dengan metode-metode psikologi yang telah dipelajari, aku sangat tertarik dengan hal itu. Semoga ini pilihan terbaik :). Bismillah..